Rabu, 09 Mei 2018

MELIHAT PULAU PASARAN, PENGHASIL TERI TERBESAR DI LAMPUNG

Melihat Pulau Pasaran, Pulau Kecil
Penghasil Ikan Teri Terbesar Di Lampung

Pariwisata Di Lampung memang terkenal dengan pantainya yang indah dan eksotik. Pantai dengan pasir putih dan ombaknya yang tidak ganas untuk diajak bermain-main. Kali ini saya akan mengajak anda untuk menikmati suasana yang berbeda yaitu tentang Pulau Pasaran. Pulau penghasil teri nasi di Lampung. Konon katanya teri nasi medan itu berasal dari Pulau Pasaran looh? Kali ini saya akan menceritakan perjalanan menuju Ke pulau yang terletak di selatan kota Bandar Lampung.


RUTE MENUJU PULAU PASARAN

Dari Bandar Lampung, perjalanan menuju pulau pasaran tidaklah jauh sebenarnya. Saya naik gocar berdua dengan istri menuju pulau yang luasnya hanya sekitar 12an hektar. Lama perjalanan kurang lebih 30 menit. Tidak jauh bukan? Berikut rutenya dari Perumnas WayHalim Bandar Lampung:


Dari Way Halim menuju Pulau
Pasaran dengan Gocar. Rp 36ribu

Perumnas Way Halim – Jl. Kimaja – Jl. Teuku Umar – Jl. Raden Intan – Tugu Patung Gajah (Bunderan gajah) – Jl. Diponegoro – Jl. Sultan Hasanudin - Pasar Mambo – Jl. Malahayati – Jl. RE Marta dinata – Jl Teluk Bone – Jl Teluk Ratai. Kami berhenti di jalan teluk ratai. Di gapura selamat datang pulau pasaran. Letaknya ada disebelah kiri jalan (sebrangnya ada counter Oppo ya..) kemarin saya kebablasan. Jadi terpaksa menikmati pemandangan dengan berjalan kaki..he.he..


Rute Ke Pulau Pasaran
 dengan Menggunakan
 maps
Dari Gapura selamat datang jalan kaki sampai ketemu jembatan menuju pulau pasaran. Sebelum jembatan ada pemandangan tanaman bakau di sebelah kanan dan kiri. Sekarang jembatan ini sudah bisa dilalui dengan menggunakan sepeda motor. Kalo dulu kalo mau nyebrang harus melalui kapal. Karena panas banget kami berdua memutuskan naik becak motor yang kebetulan sedang melintas di hadapan kami.


Gapura menuju Pulau
Pasaran
Jembatan Menuju Pulau Pasaran

ADA APA SAJA DI PULAU PASARAN?

Secara administrasi Pulau Pasaran terletak di kecamatan Teluk Betung Barat, Bandar Lampung. Pulau yang awalnya cuman ¾ hektar ini cukup unik untuk dikunjungi. Banyak para fotografer yang berburu gambar di sela-sela aktivitas para nelayan yang sedang menjemur ikan teri. Hampir setiap rumah memiliki lahan untuk menjemur ikan tangkapan. Kalo anda beruntung, bisa menyaksikan langsung proses pembuatan ikan teri. Oh ya secara sederhana ikan teri yang kita makan itu hanya melalui 3 tahapan. Yang pertama adalah ikan yang sudah ditangkap di rebus dengan dibubuhi garam. Tap kedua teri tadi di jemur dibawah terik matahari langsung. Lama penjemuran kurang lebih 4 jam. Bisa kurang jika panas banget. Tahap yang terakhir packing. Produk teri pasaran ini dijual di jakarta. Dengan harga rata-rata 100.000 untuk satu kilo. Jika produksi sedang melimpah satu kilo hanya 80.000 saja.

Berfoto dengan nelayan yang sedang
Menjemur teri di Pulau Pasaran

Setelah saya puas melihat dan diskusi dengan nelayan saya memtutuskan untuk solat duhur dimasjid. Teman-teman tidak usah kawatir. Sekarang sudah ada masjid loh di sini. Letaknya di paling tengah-tengah. Tanya saja dengan penduduk disana.

Hanya ada satu masjid di Pulau
Pasaran ini. 

Di tempat ini pula sering dikunjungi mahasiswa dari luar lampung, seperti IPB yang magang dan mempelajari pembuatan teri pulau pasaran.

TIPS BERKUNJUNG KE PULAU PASARAN

Berikut saya bagikan tips berkunjung ke pulau pasaran, berdasarkan pengalaman kami kemarin.

  • Gunakan topi yan lebar ya untuk melindungi kepala dan wajah dari teriknya matahari. Panas bener soalnya
  •  Bawa Payung. Payung cukup membantu meredakan sedikit panas dari matahari.
  • Gunakan lotion agar kulit kita tidak terbakar
  • Datang pada saat yang tepat. Pagi sampai siang. Hindari datang kesini pada bulan purnama ya? Kenapa? Kalo bulan purnama nelayan absen melaut. Jadinya kamu ga menemukan aktifitas nelayan yang sedang menjemur  teri.

Proses merebus udang ebi


PULAU PASARAN YANG PERLU PENGEMBANGAN DAN PERHATIAN

Pulau pasaran ini terdapat dua RT saja dan dihuni kurang lebih 200an Kepala keluarga. Emang sih hampir semua penduduk disini berprofesi sebagai nelayan. Setelah saya berkeliling dipulau pasaran sepertinya ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan menjadi perhatian kita bersama.

  • Pengelolaan sampah tidak dilakukan secara maksimal. Saya menemukan banyak sampah disana ya. So bagi anda yang akan berkunjung ke Pulau Pasaran please jangan meninggalkan sampah ya.cukup meninggalkan jejak kaki saja.
  • Air penduduk menggunakan PDAM dari pemerintah daerah. Air ga selalu lancar nyalanya. Kayaknya perlu dilakukan riset agar penduduk menggunakan air laut yang sudah ditawarkan untuk keperluan sehari hari. ( desalinasi air laut)
  •  Perlu pengembangan produk pasca panen ikan . inovasi produk pasca panen. selama ini yang saya perhatikan disana para nelayan hanya berhenti sampai bahan baku saja. Mereka hanya menjual ikan teri yang sudah diasinkan. Meski sudah ada yang memproduksi terasi. Tetapi tidak setiap hari produksi.
  • Penataan tata kota yang perlu dirubah. Jadi saya tidak bisa mengelilingi pulau pasaran dari tepi pulau. Karena rumah penduduk membelakangi bibir pantainya...seandaikan seperti di jepang yang rumahnya menghadap kesungai..dan ada jalannya maka niscaya penduduk setempat tidak buang sampah sembarangan.
  • Ketergantungan produk garam. Garam digunakan untuk produksi ikan asin di Pulau Pasaran. Dan di sini belum mandiri garam. Belum bisa buat garam sendiri. Padahal di dekat pantai.
  • Bahan bakar. Ketergantuangn bahan bakar terutama solar juga dirasakan oleh nelayan disini. Apabila harga solar naik  maka harga ikan teri juga kan naik dan ini membuat kalah persaing dengan produk serupa dari pulau sulawesi atau medan.

Bagikan

Jangan lewatkan

MELIHAT PULAU PASARAN, PENGHASIL TERI TERBESAR DI LAMPUNG
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.

3 komentar

Tulis komentar
avatar
14 Mei 2018 17.06

Nice info mas, ini salah satu potensi lokal yang perlu diangkat agar manfaatnya dirasakan langsung oleh Penduduk pulau Pasaran. Jadi bukan hanya gaungnya..

Reply
avatar
16 Mei 2018 19.00

iya keren pak. cocok banget untuk wisata photografi. dan tempat yang asyik untuk belajar cara membuat teri asin.

Reply

Belum Menemukan Tempat Buka Puasa Bareng Teman dan Keluarga? Wood Stairs Bisa Jadi Pilihan Untuk Anda

Suasana di depan pintu masuk Wood Stair Cafe Puasa Ramadhan sudah berjalan 5 hari. Masih semangat kan? tetap jaga kesehatan dan selalu...